Kamis, 24 Juli 2008

Komando 6 With Astro TV

Reality Show Pertama di Indonesia tentang Latihan Kopassus di Batu Jajar
KOMANDO 6 With Astro TV


Ini dia Reality show pertama yang gue ikutin dengan susah payah
walaupun harus mengundurkan diri karena gak bisa adapatasi dengan
aturan makannya yang cukup banyak buat porsi gua, karen gua lagi diet hehehhe
buat nurunin kadar lemak gua. wkakakakaakaka

padahal nyesel banget ketika gua ngundurin diri, tetapi mau diapain lagi nasi dah jadi bubur.
btw ketika gua ngundurin diri tuh latihan fisiknya dah gak berat-berat banget lagi.
hiks hiks

neh beberapa beritanya


“Anak kota itu biasa makan tidak teratur dengan porsi yang tidak tetap. Sekarang mereka harus bisa makan dengan porsi tetap dan di jam yang selalu tetap. Semua itu harus dihabiskan dalam waktu yang ditentukan.” kata Rizal Mustary, Executive Producer Astro Awani. ”Di dua hari pertama, banyak peserta yang kaget dengan pola makan baru ini. Karena itu tidak sedikit yang mengalami sakit pencernaan.”

Setelah mereka resmi menjadi peserta dan mengikuti pelatihan di Batujajar sampai dengan akhir kompetisi, setiap peserta kini mendapat sebutan ”wira”. Setiap wira diberikan bandana dan kalung militer (dogtag) bertuliskan nama masing-masing. Kalung ini menjadi simbol nyawa atau keberadaan mereka dalam KOMANDO ENAM.

Sekarang para wira siap mengikuti tahap pertama dari seluruh kompetisi, yaitu tahap meditasi. Tahap meditasi merupakan tahap dasar dari seluruh pembinaan para wira. Di sini fisik dan mental mereka dipersiapkan secara khusus melalui serangkaian bimbingan fisik : lari, lompat, naik/turun bukit, push up, sit up, pull up, hingga renang. Keterampilan ini diharapkan menjadi bekal para wira untuk melaksanakan tahap-tahap berikutnya yang lebih berat.

Mengawali hari pertama kompetisi, para wira dihadapkan pada rutinitas baru yang berbeda 180 derajat dari kebiasaan lama mereka. Di pagi pertama mereka sudah harus bangun pukul 4 pagi lewat tanda bunyi peluit pertama. Dari situ, mereka harus segera merapikan tempat tidur dan mandi. Di peluit kedua, mereka sudah harus siap untuk senam pagi, untuk kemudian dilanjutkan dengan sarapan. Setelah itu, dari pukul 7 sampai 11, para wira harus menjalani serangkaian bimbingan fisik. Semua dilakukan untuk persiapan Wira Tangkas pertama, yaitu kompetisi yang mengakhiri setiap tahap dalam KOMANDO ENAM.

Pelatihan tidaklah mudah bagi para wira yang belum terbiasa melakukan aktivitas fisik secara rutin. Adaptasi terhadap cuaca dan berbagai atribut baru harus dilakukan dengan cepat. Akibatnya sejumlah wira mengalami cedera. Bahkan ada yang harus melalui latihan dengan terbebat perban.

”Dua hari pertama di Batujajar memang jadi penyesuaian yang berat buat mereka.” ujar Rizal Mustary, Executive Producer Astro Awani. ”Banyak yang belum terbiasa dengan beban berat dalam tingkat intensitas tinggi. Akhirnya ada beberapa yang cedera, mulai dari keram kaki saat renang dan lari, sampai melepuhnya telapak kaki karena tidak tahan dengan panasnya sepatu lars yang dipakai.”

Di hari kedua kompetisi, para wira dihadapkan pada tantangan pertama. Walaupun bukan tantangan eliminasi, namun pemenang dari tantangan pertama ini akan diberikan kesempatan untuk menghubungi keluarga atau kerabat yang diinginkan selama 10 menit.

Dibagi menjadi 3 grup, Cakra, Gada, dan Nanggala, para wira harus menyelesaikan dua jenis tantangan. Di bagian pertama, tiap tim harus menyelesaikan jarak 600 meter dengan lari estafet. Mengingat ’hadiah’ yang ditawarkan di tantangan ini, tiap tim berusaha keras untuk menang. Tiap tim susul-menyusul silih berganti. Namun pada akhirnya tim Nanggala menyentuh garis finish terlebih dahulu. Di bagian kedua tantangan lebih berat. Setiap tim harus menyelesaikan halang rintang berupa restock berganda (monkey bar). Dua tim yang kalah di bagian pertama tidak tinggal diam. Mereka berusaha keras untuk menjadi juara. Kerja keras pun berbuah manis bagi tim Cakra, yang akhirnya menyelesaikan tantangan ini pertama kali.
Bagi kedua tim pemenang, ’hadiah’ yang ditawarkan menjadi obat pelipur lara atas kerinduan mereka dengan keluarga atau kerabat. 10 menit yang singkat dipenuhi senyum, tawa, bahkan air mata haru. ”Ini hadiah yang luar biasa,” komentar salah satu wira yang diperbolehkan menghubungi puterinya yang baru berumur 1 tahun.

Menjelang wira tangkas pertama, para wira mulai bersiap-siap. Tantangannya adalah lomba biathlon, yang diawali dengan renang di Danau Cimanglid sejauh 300 meter dan dilanjutkan lari sejauh 2 kilometer di medan berbukit. Kecemasan tersendiri muncul di tim G7, grup yang terdiri dari 7 orang wira yang memang mendapat bimbingan ekstra dalam renang. Mereka harus menyiapkan kekuatan ekstra untuk menyelesaikan wira tangkas ini supaya tidak tereliminasi.
Channel 30

Kompetisi pun dimulai. Para wira dibawa ke titik start yang ada di salah satu sisi Danau Cimanglid, yang masih berada dalam kompleks pusat pendidikan. Setelah diberikan aba-aba, para wira berlomba-lomba menuju daratan. Secara mengejutkan, wira-wira yang tidak unggul justru memimpin di depan, meninggalkan wira-wira lain di belakang. Para wira yang tergabung di tim G7 sempat menemukan kesulitan. Namun, secara tidak terduga, beberapa di antaranya justru bisa mendahului wira-wira lainnya.

Tiba di darat, para wira tidak bisa sepenuhnya berisitirahat. Berlomba dengan waktu, mereka harus menempuh medan berbukit sejauh 2 kilometer. Beberapa wira yang telanjur mengeluarkan 100% tenaga saat renang mulai menemukan kesulitan. Di sinilah kesempatan para wira yang tergabung di tim G7 untuk menyusul. Mereka berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankan posisi mereka di dalam KOMANDO ENAM. Dengan semangat tinggi, akhirnya mereka menyentuh garis finish. Beberapa bahkan mencetak waktu yang relatif lebih baik dibandingkan rekan-rekan lainnya.

Usai wira tangkas, para wira dihadapkan pada proses eliminasi. Tiga wira yang dinilai paling lemah harus meninggalkan kompetisi. Secara mengejutkan, beberapa wira yang diduga unggul justru menempati kategori terakhir ini. Penilaian ternyata tidak dibatasi pada catatan waktu yang dalam pelaksanaan wira tangkas, tapi juga sepanjang penyelenggaraan kompetisi. Pada akhirnya tiga orang yang dinilai lemah, harus meninggalkan kompetisi. Mereka dipersilakan menggantung kalung militer (dogtag) di pancang-pancang yang telah disiapkan di tepi danau, sebagai tanda bahwa mereka telah tersisih dari KOMANDO ENAM.

”Setelah tiga hari digembleng di Batujajar kini mereka sudah memiliki kekompakan, kebersamaan dan rasa kekeluargaan satu sama lain. Jika belum selesai menyelesaikan pelatihan atau belum berkumpul semua, mereka tidak akan makan terlebih dulu. Semuanya harus dilakukan bersama-sama. Ketika ada seseorang yang kehabisan tenaga saat melakukan wira tangkas, peserta lainnya menyemangati wira yang kepayahan tersebut.” terang Riza Primadi, Editor in Chief Astro Awani.

Setelah tahap meditasi, para peserta akan melalui tahap basis masih di Batujajar, Bandung. Setelah itu mereka akan bergeser ke Citatah untuk mengikuti tahap Arga atau gunung. Setelah itu, mereka akan bernagkat menuju Situ Lembang untuk mengikuti tantangan Rimba. Selanjutnya tahap terakhir yakni Rawa yang akan dilalui para peserta dengan Long March dari Cilacap ke Nusakambangan.

Ikuti terus petualangan seru dan menegangkan di reality show dokumenter pertama di Indonesia, yang akan tayang di Astro Awani mulai Oktober 2008. Temui pengalaman yang tidak akan Anda dapatkan di televisi manapun selain di Astro Awani.


1 komentar:

Unknown mengatakan...

hO Hai..!!!

kapan kita reunian dan hedon bareng2?

gw link blog lu ke blog gw yak.